PERLU KALIAN SEMUA KETAHUI,
waktu itu, dia masih menjadi pemain sepak bola yang tingkatannya sudah mumpuni.
Belum bisa disebut profesional, dan mungkin masih belum sepadan dengan
perjuangannya memenangi pertandingan kelas nasional walaupun sepanjang aku
mengenalnya ia tak pernah bercerita bahwa dirinya akan mengambil suatu
keputusan yang menurutku mengagetkan. Jika ingin menjadi seperti ia, maka akan
dipikirkan seribu kali untuk menghentikan popularitas sebagai pemain bola yang
diperhitungkan negeri ini.
Benar
adanya, aku memandanginya dengan penuh keheranan sembari duduk di kursi dekat
lapangan sepak bola yang penuh dengan bola dan pakaian bersih para pemain yang
sudah dibinatu sebelumnya. Kursi itu, setidaknya pernah menjadi saksi seorang
pelatih yang seringkali emosional ketika melihat beberapa pemain asuhannya
salah dalam menentukan strategi. Bahkan, atap kanopi yang menutupi kursi itu
dipenuhi dedaunan layu yang seolah bercerita kalau lapangan itu memiliki
sejarah yang barangkali agak sulit dihapus dalam kehidupan pemain yang pernah
bermain disana. Ibaratnya, kalau pernah bermain di lapangan ini, pastinya
akan tertuang satu kenangan indah dan sulit untuk dilupakan.
Dan
mungkin bisa jadi, ada yang mengatakan kalau tempat itu barangkali akan menjadi
tempat terakhir seseorang bertanding, entah karena pensiun atau mencoba
olahraga lain yang lebih mengasyikkan ketimbang menendang kulit bundar di
hamparan rerumputan yang demikian luas. Mampukah dia melanjutkan disaat
nuraninya tidak sejalan dengan pergerakan tubuhnya? Aku yakin ia tidak akan
mampu melanjutkan.
Dua
puluh lima menit sesi latihan selesai, sesekali aku melihatnya tengah mengelap
keringat yang keluar dari tubuhnya dengan handuk dan bercengkrama santai dengan
pemain lainnya. Matanya tidak pernah lelah demi menggiring kulit bundar nan
imut itu agar bisa bertanding dengan mulusnya pada kompetisi mendatang.
Badannya yang setengah kekar pun membuyarkan pandanganku akan keraguan
permainannya di lapangan hijau sebelum akhirnya dia mampu melakukannya.
Pembicaraan terakhir yang ia lakukan dengan pelatihnya adalah: setelah
pertandingan kontra Malaysia, saya memutuskan berhenti untuk mencoba olahraga
lain yang lebih ringan.
Ia
seakan serius dengan keputusannya ini, sehingga pembicaraan itu dilakukannya
berulang-ulang kali tanpa jeda. Terhitung hampir sebulan ia melobi pelatih
kesayangannya untuk menyatakan berhenti memperkuat timnas karena mencoba
sesuatu yang baru. Aku melihat sorotan wajahnya yang tidak bisa ditebak
sembarangan, antara masam atau gelisah karena keinginannya untuk hengkang tak
akan direstui pelatihnya. Sebuah pilihan yang cukup membingungkan bagi dirinya.
Perkataannya kala itu hanya keluar sedikit dari mulut manisnya, dan akan
dianggap tidak berharga bila nantinya tidak digubris.
Aku
cukup terkejut setelah membaca berita olahraga di koran tentang dirinya yang
ingin hengkang dari timnas. Ia ingin gantung sepatu karena ingin menjadi
pemain freestyle football, begitulah kalimat yang ditulis koran pagi itu.
Kopi yang kuminum ini seakan tidak harum lagi usai membaca berita kemundurannya
ini. Bagiku, keputusannya akan mengejutkan dan mengecewakan banyak orang yang
mengelu-elukan dan memujanya, tapi kodratnya ia harus berhenti karena pilihan
yang dapat memberikan manfaat luar biasa. Tidak tepat momennya, makiku
dalam hati.
Sesi
latihan itu ditutup ketika matahari sudah hampir terbenam. Aku segera
menjumpainya yang kelihatannya masih lelah berlatih. “Halo, Arjuna.” “Maaf sekali
mengganggumu. Bagaimana latihannya untuk pertandingan kontra Malaysia? Katanya
ini jadi pertandingan terakhirmu?”
Ia
menyambutku dengan keramahan sembari tangan kirinya mengusap keringat di
keningnya dengan handuk kecilnya dan tangan kanannya memegang bola yang ia
pantulkan kecil-kecil, “Cukup melelahkan. Dan mungkin ini akan menjadi
pertandingan terakhirku bersama timnas.”
“Kenapa
begitu? Bukankah permintaanmu untuk berhenti berulang-ulang kali ditolak sama
pelatihmu?”
“Pembicaraannya
sudah dilakukan jauh sebelumnya, dan pelatihku akhirnya luluh untuk merestuiku
keluar dari timnas. Dia hanya berkata ‘semoga sukses dengan pilihanmu di
luar sana. Doa saya selalu mengiringimu’. Begitulah jawabnya.”
“Aku
lihat berita di koran hari ini, kau nampaknya ingin berhenti karena menggeluti freestyle
football? Benarkah?”
“Bisa
iya, bisa tidak. Bahkan sebaliknya.”
“Aku
harap kau tidak hanya sekadar berucap tanpa adanya tindakan nyata. Setidaknya
pilihanmu itu lebih baik dan mendatangkan keuntungan bagimu.”
“Terima
kasih atas harapmu yang indah itu. Kiranya aku ingin mencoba hobi baru itu
karena terlihat menarik dan banyak trik yang tidak didapatkan ketika berlatih
disini.”
“Sungguh?”
“Aku
bersungguh-sungguh.”
Pembicaraan
itu ditutup. Ia segera menuju kamar mandi stadion untuk mandi dan bergegas salat
maghrib di masjid yang persis di sebelahnya dan setelahnya akan menuju pulang
ke rumahnya untuk beristirahat. Aku memandangi dirinya dengan tatapan tidak
jelas. Antara senang, kecewa, dan tidak percaya mendengar apa yang dikatakannya
itu.
Aku juga
segera bergegas pulang ke rumah dan seketika aku berpikir keras tentang
keputusannya yang sudah kudengar sendiri darinya. Ibuku menatapku keheranan
ketika koran yang aku pegang dibaca dekat-dekat. Semoga pilihannya kali ini
sudah benar. “Kamu kenapa membacanya seperti itu? Tulisannya terlalu kecil?”
“Tidak,
Bu. Aku cukup terkejut dengan berita mundurnya Arjuna Ardiansyah dari timnas
setelah bertanding kontra Malaysia pekan depan. Ibu sudah dengar, belum?”
Ibuku
berkata dengan santai sambil membawakan sepiring bakwan sayur lengkap dengan
cabai rawit hijau dan susu hangat untukku, “Ooh itu. Ibu sudah menonton
beritanya di televisi.”
“Syukurlah
kalau begitu. Terkejutkah mendengarnya, Bu?”
“Kamu
itu bagaimana, sih? Ya jelas-jelas ibu terkejut dengan keputusannya ini.
Apalagi, kan, dia memang idola bagi semua anak muda negeri ini.”
“Apa
iya, Bu?”
“Iya.
Bahkan kalau kamu menanyakan ini ke teman-temanmu, pastinya akan menjawab
dengan hal serupa. Dia selalu dielu-elukan kalau tengah bertanding.”
Obrolan
itu terhenti. Aku segera menyantap bakwan sayur buatan ibuku lalu setelahnya
aku memijat pundak ibuku yang kelihatannya pegal sekali membereskan rumah
seharian. Ibuku menatapku tersenyum penuh melihat anak satu-satunya ini dengan
bakti dan cinta.
Keesokan
paginya, aku dan ibuku menyiapkan sarapan paling pagi karena kami berdua akan
mempunyai agenda masing-masing. Aku ingin melihat sesi latihan timnas jelang
laga kontra Malaysia, sedangkan ibuku tetap bertugas jadi ibu rumah tangga dan
akan menghadiri pesta pernikahan anak dari kerabat dekat ibuku. Karena
kapasitasku sebagai wartawan media cetak, aku sudah putuskan ingin liputan
sendiri kesana tanpa bantuan fotografer yang biasanya selalu menemaniku. Aku
berangkat jam delapan dari rumah dan tiba pukul setengah sembilan. Sesampainya
di dalam stadion, suasananya sudah penuh dengan penggemar dan wartawan yang
ingin mengonfirmasi langsung si pemain itu. Benar tidak keputusannya ini?
Bagaimana bisa ia berhenti karena menggeluti hobi tidak jelasnya itu?
Blablabla...
“Ia
belum bisa diwawancarai untuk saat ini,” begitulah kata seorang pelatih timnas,
Abdul Jauhari, yang datang menghampiri wartawan dan penggemarnya dengan
ekspresi tidak nyaman. Maklum, pelatih setengah baya ini sudah dikenal sebagai
sosok yang ‘angkuh’ dengan siapapun yang tidak dikenalnya.
Beberapa
menit kemudian, pemain itu seketika menghampiri kerumunan orang itu, dan
berkata, “Iya saya akan mengundurkan diri setelah laga ini. Jadi untuk para
penggemar saya, mohon doanya agar saya bisa menjalani hobi baru saya dengan nyaman
dan jangan kecewa dengan hal ini.” Penggemarnya yang kebanyakan perempuan itu
sontak menangis dan ingin memeluknya untuk terakhir kalinya sebagai bentuk
perpisahan.
Sepekan
kemudian setelah pengumuman itu, pertandingan sakral terjadi. Ia mampu bermain
dengan cemerlang dan mampu mencetak gol pertama di setengah jam pertama. Skor
menjadi 1-0. Kemudian pada setengah jam berikutnya, sebuah gol kedua tercipta
oleh tendangan kerasnya dan menjadikan skor timnas berubah menjadi 2-0 hingga
menit-menit terakhir tanpa balasan dari pemain Malaysia. Aku menonton ia
bertanding bersama ibuku dan langsung bersorak kegirangan begitu kemenangan
sudah didepan mata.
“Kamu
merasakan hawanya?”
“Iya,
Bu. Setelah ini ia langsung undur diri,” kataku dengan mata berkaca-kaca.
Ibuku
mengerti apa yang aku rasakan. “Nak, ibu juga merasakan sedih itu dengan
cukupnya. Kamu boleh menangis dihadapan ibu juga tidaklah apa.”
Seketika
aku memeluk ibuku dengan tangis kebahagiaan dan awal sebuah kehancuran yang
sebenarnya. Ia berhasil menghancurkan impiannya menjadi pesepakbola
profesional dengan begitu mulusnya. Dan kini, ia mulai menapaki kehidupan
barunya setelah dari lapangan hijau yang sudah menjadi zona nyamannya. Beberapa
bulan kemudian, aku berhasil menemukannya ketika tengah latihan dengan salah
satu komunitas gaya bebas di sebuah taman terbuka hijau. Ia tersadar ketika
melihatku ada disitu dan berusaha menyapaku dengan kehangatan serupa ketika
pertama kali menyapaku dulu.
“Halo, apa
kabar?” katanya tersenyum.
“Kabarku
baik. Bagaimana denganmu?”
“Luar
biasa baik,” ujarnya singkat, dan ia seketika melihatku gelisah dan kecewa
dengan keputusannya. “Aku mengerti kalau kamu kecewa akan keputusanku. Tetapi,
sudah saatnya aku harus melanjutkan hidup dengan cara lain setelah dari
lapangan hijau. Bisa berbagi ilmu sepakbola dengan caraku sendiri.”
“Sungguh
pilihanmu ini tidaklah salah?”
“Tidak
sama sekali. Malah aku bisa mengajari banyak orang berkat pengalamanku di sepak
bola, dan sekali lagi aku tidak menyesal akan keputusanku. Dan pilihanku ini
yang terakhir semoga bisa lebih baik dari karirku sebelumnya.”
Aku dan
dirinya saling menatap. Lama sekali. Sorotan matanya seakan membiusku. Ia yakin
dengan apa yang menjadi pilihannya. Sampai akhirnya kami pun tersadar karena
akan disangka melamun.
Ia pun
langsung lanjut latihan bersama teman-teman barunya. “Oke, aku mau lanjut
latihan dulu, ya. Sampai bertemu lagi. Sukses selalu untukmu!”
Lelaki
berbadan setengah kekar itu kembali memainkan bola dengan trik-trik yang ia
kuasai. Sejalan dengan itu, aku pun bersyukur karena ia bisa optimis dengan
pilihan terakhirnya tanpa mengorbankan nama besar dan masa depannya di sepak
bola.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar