PERLU KALIAN SEMUA KETAHUI,
waktu itu, dia masih menjadi pemain sepak bola yang tingkatannya sudah mumpuni.
Belum bisa disebut profesional, dan mungkin masih belum sepadan dengan
perjuangannya memenangi pertandingan kelas nasional walaupun sepanjang aku
mengenalnya ia tak pernah bercerita bahwa dirinya akan mengambil suatu
keputusan yang menurutku mengagetkan. Jika ingin menjadi seperti ia, maka akan
dipikirkan seribu kali untuk menghentikan popularitas sebagai pemain bola yang
diperhitungkan negeri ini.
Benar
adanya, aku memandanginya dengan penuh keheranan sembari duduk di kursi dekat
lapangan sepak bola yang penuh dengan bola dan pakaian bersih para pemain yang
sudah dibinatu sebelumnya. Kursi itu, setidaknya pernah menjadi saksi seorang
pelatih yang seringkali emosional ketika melihat beberapa pemain asuhannya
salah dalam menentukan strategi. Bahkan, atap kanopi yang menutupi kursi itu
dipenuhi dedaunan layu yang seolah bercerita kalau lapangan itu memiliki
sejarah yang barangkali agak sulit dihapus dalam kehidupan pemain yang pernah
bermain disana. Ibaratnya, kalau pernah bermain di lapangan ini, pastinya
akan tertuang satu kenangan indah dan sulit untuk dilupakan.
Dan
mungkin bisa jadi, ada yang mengatakan kalau tempat itu barangkali akan menjadi
tempat terakhir seseorang bertanding, entah karena pensiun atau mencoba
olahraga lain yang lebih mengasyikkan ketimbang menendang kulit bundar di
hamparan rerumputan yang demikian luas. Mampukah dia melanjutkan disaat
nuraninya tidak sejalan dengan pergerakan tubuhnya? Aku yakin ia tidak akan
mampu melanjutkan.