Selasa, 30 Juli 2019

Pilihan Terakhir

PERLU KALIAN SEMUA KETAHUI, waktu itu, dia masih menjadi pemain sepak bola yang tingkatannya sudah mumpuni. Belum bisa disebut profesional, dan mungkin masih belum sepadan dengan perjuangannya memenangi pertandingan kelas nasional walaupun sepanjang aku mengenalnya ia tak pernah bercerita bahwa dirinya akan mengambil suatu keputusan yang menurutku mengagetkan. Jika ingin menjadi seperti ia, maka akan dipikirkan seribu kali untuk menghentikan popularitas sebagai pemain bola yang diperhitungkan negeri ini.
Benar adanya, aku memandanginya dengan penuh keheranan sembari duduk di kursi dekat lapangan sepak bola yang penuh dengan bola dan pakaian bersih para pemain yang sudah dibinatu sebelumnya. Kursi itu, setidaknya pernah menjadi saksi seorang pelatih yang seringkali emosional ketika melihat beberapa pemain asuhannya salah dalam menentukan strategi. Bahkan, atap kanopi yang menutupi kursi itu dipenuhi dedaunan layu yang seolah bercerita kalau lapangan itu memiliki sejarah yang barangkali agak sulit dihapus dalam kehidupan pemain yang pernah bermain disana. Ibaratnya, kalau pernah bermain di lapangan ini, pastinya akan tertuang satu kenangan indah dan sulit untuk dilupakan.
Dan mungkin bisa jadi, ada yang mengatakan kalau tempat itu barangkali akan menjadi tempat terakhir seseorang bertanding, entah karena pensiun atau mencoba olahraga lain yang lebih mengasyikkan ketimbang menendang kulit bundar di hamparan rerumputan yang demikian luas. Mampukah dia melanjutkan disaat nuraninya tidak sejalan dengan pergerakan tubuhnya? Aku yakin ia tidak akan mampu melanjutkan.