Jumat, 11 Januari 2019

Dongeng Seorang Pemain yang Menjadi Kenyataan

”Maafkanlah bila aku harus mencatut namamu. Percayalah, dongeng yang aku ceritakan ini yang awalnya hanya khayalan, namun bisa saja berakhir dengan akhir yang nyata. Semoga hal ini menjadi kenyataan! Harus!”

Alkisah di daratan yang dipenuhi lapangan hijau indah nan berseri, muncullah seorang pesepakbola gaya bebas yang tampan, memesona, dan memiliki tatapan menghanyutkan. Siapakah itu?

Namanya Fajar. Dia pribadi yang baik, terlihat menyenangkan, dan memiliki sorotan matanya yang ’berbicara’. Kerap kali tatapannya membuat siapapun terkesima, jatuh hati, atau bahkan mengaguminya sebagai idola terbaik di masa depan. Sungguh dialah sangat luar biasa dengan modal semacam itu. Dia sungguh memesonakan siapapun yang melihat aksinya, dan dia adalah pribadi yang tidak pernah pelit mengajarkan trik-trik penguasaan bola kepada mereka yang berguru padanya.


Dia mempunyai koleksi bola yang banyak, ada tujuh buah. Banyak sekali, bukan? Apakah dia langsung menjadi sombong dengan koleksi sebanyak itu? Tidak sama sekali. Justru dengan banyaknya koleksi bola itu, ia mampu meningkatkan kemampuannya sehingga bisa menjadikannya sosok tangguh nan perkasa.

Semangatnya untuk memberikan pengabdiannya pada sepakbola gaya bebas sungguh mulia. Tidak ada satupun manusia di pulau itu yang bisa sepertinya. Mengabdi demi olahraga yang berkualitas dan mumpuni.

*
Suatu waktu, ia sering menemui kendala ketika hendak berlatih di lapangan terbuka. Semisal ia sering dikatai ”seniman aneh” atau ”topeng monyet tak laku jua!”. Namun, semua itu tak menghalangimu untuk terus berlatih keras demi menjadi yang terbaik di pulau itu.

Sore harinya, setelah dia selesai berlatih, dia begitu terkejut tatkala seorang penyair memberinya satu puisi indah ke rumahnya:

Wahai orang berparas tampan, tidak ada siapapun di dunia ini yang melihat begitu cantiknya permainanmu mengolah bola sebagai seni indah dan memesona. Wahai orang berkepribadian super, apakah selayaknya dirimu dikatakan sebagai pemain profesional suatu negara? Mungkinkah dirimu bisa melakukannya ditengah hujatan dan cemoohan datang menghampirimu? Aku tak tahu jawabannya. Yang tahu semuanya hanyalah kamu, dari hati nuranimu.

*
Sepi dalam keguncangan hati, termenunglah ia setelah membaca puisi penyair itu dan membayangkan semua kalimat dalam bait-bait puisi yang langsung menusuk ke dalam sanubarinya.

Seketika dia tertidur pada malam itu, bersama semua koleksi bola miliknya. Berharap semua yang dikatakan penyair itu akan menjadi kenyataan. Tertidurlah dia dengan nyenyaknya, tak ada lagi yang harus dipikirkan, yang dia rasa hanyalah wanginya bunga mimpi di taman Surgawi.

Dongeng ini belumlah selesai, masih ada kelanjutannya dan banyak lagi kejutan yang akan diberikan.
”Ayo teruskan ceritanya” seru pembaca
”Aku ingin dongeng ini berakhir indah”

*
Ya Tuhanku. Sesungguhnya selain dirinya, ada banyak sosok yang bisa dijadikan idola, baik di dunia maupun di akhirat. Dari Sean Garnier, Fagerli bersaudara, hingga remaja seperti Arie Ardiansyah, semuanya memiliki nama serta personalitasnya sendiri yang diperhitungkan bangsa dan negara.

Ya Tuhanku. Maukah menerima kesungguhannya dalam mengejar ambisinya sebagai mahluk pesepakbola gaya bebas yang keren dan santun demi mengharumkan bangsa dan negara?

Kisah pun berlanjut...

*
Di pagi yang berembun, seorang penyair kebanggaan pulau itu kembali mengirimkan kata motivasi untuk Fajar:

Sambutlah hari ini dengan penuh kegembiraan. Buktikan bahwa kamu bisa melakukannya dengan baik. Jaga sportifitasmu ketika bertanding, jangan pergunakan cara curang dalam menuruti ambisimu. Semangat! Tidak ada yang mustahil selain kamu mau merubahnya. Dunia takkan hancur bila kamu menjadi apapun yang membanggakan bangsa dan negara ini.

Dia pun segera melangkah, menuju sebuah pertandingan besar di pulau itu. Selamatlah dia ketika hendak melakukan pertandingan itu dengan baiknya. Jadikanlah dia sebagai pemain profesional yang nyata, bukanlah ilusi, ataupun khayalan.

*
Pertandingan itu berjalan lancar, semua peserta tampil dengan apik dan penuh optimisme. Fajar pun juga begitu, dia terlihat bersemangat dan sesekali keringat keluar dari keningnya, seperti menandakan hal baik segera menghampiri dirinya.

Dan benar saja, dia berhasil menjadi juara!

Betapa senangnya dia ketika mendengar pengumuman ini, seraya berucap, ”Terima kasih, Tuhan. Kau bagaikan penguasa alam semesta yang begitu memahami kerja kerasku!”

Itulah jihad sesungguhnya yang dimiliki Fajar. Penyair terkenal itu kembali mengirimnya sebuah motivasi amat menyentuh hati dan jiwanya:

”Ingatlah, kemenangan yang kamu dapatkan ini bukanlah apa-apa. Tapi kamu masih memiliki semangat untuk terus mengajarkan mereka agar bisa sepertimu. Sean Garnier, Fagerli bersaudara, hingga Arie Ardiansyah kiranya akan bangga padamu. Suatu saat kelak, bangsa dan negara ini akan selalu memujamu, bersama dengan masyarakatnya yang luar biasa hebatnya.”

Dan epilog dari kisah ini: Tanamkan semangat dan optimisme yang tinggi demi meraih ambisi dan cita-cita yang diinginkan. Janganlah ragu untuk belajar lagi dari nol, buktikanlah dengan kerja keras dan abaikan semua cemoohan di luar sana. Jadilah manusia yang tahan banting!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar