”Maafkanlah
bila aku harus mencatut namamu. Percayalah, dongeng yang aku ceritakan ini yang
awalnya hanya khayalan, namun bisa saja berakhir dengan akhir yang nyata.
Semoga hal ini menjadi kenyataan! Harus!”
Alkisah di
daratan yang dipenuhi lapangan hijau indah nan berseri, muncullah seorang
pesepakbola gaya bebas yang tampan, memesona, dan memiliki tatapan
menghanyutkan. Siapakah itu?
Namanya
Fajar. Dia pribadi yang baik, terlihat menyenangkan, dan memiliki sorotan
matanya yang ’berbicara’. Kerap kali tatapannya membuat siapapun terkesima,
jatuh hati, atau bahkan mengaguminya sebagai idola terbaik di masa depan.
Sungguh dialah sangat luar biasa dengan modal semacam itu. Dia sungguh
memesonakan siapapun yang melihat aksinya, dan dia adalah pribadi yang tidak
pernah pelit mengajarkan trik-trik penguasaan bola kepada mereka yang berguru
padanya.
Dia
mempunyai koleksi bola yang banyak, ada tujuh buah. Banyak sekali, bukan?
Apakah dia langsung menjadi sombong dengan koleksi sebanyak itu? Tidak sama
sekali. Justru dengan banyaknya koleksi bola itu, ia mampu meningkatkan
kemampuannya sehingga bisa menjadikannya sosok tangguh nan perkasa.
Semangatnya
untuk memberikan pengabdiannya pada sepakbola gaya bebas sungguh mulia. Tidak
ada satupun manusia di pulau itu yang bisa sepertinya. Mengabdi demi olahraga
yang berkualitas dan mumpuni.
*
Suatu waktu,
ia sering menemui kendala ketika hendak berlatih di lapangan terbuka. Semisal
ia sering dikatai ”seniman aneh” atau ”topeng monyet tak laku jua!”. Namun,
semua itu tak menghalangimu untuk terus berlatih keras demi menjadi yang
terbaik di pulau itu.
Sore
harinya, setelah dia selesai berlatih, dia begitu terkejut tatkala seorang
penyair memberinya satu puisi indah ke rumahnya:
Wahai orang
berparas tampan, tidak ada siapapun di dunia ini yang melihat begitu cantiknya
permainanmu mengolah bola sebagai seni indah dan memesona. Wahai orang
berkepribadian super, apakah selayaknya dirimu dikatakan sebagai pemain
profesional suatu negara? Mungkinkah dirimu bisa melakukannya ditengah hujatan
dan cemoohan datang menghampirimu? Aku tak tahu jawabannya. Yang tahu semuanya
hanyalah kamu, dari hati nuranimu.
*
Sepi dalam
keguncangan hati, termenunglah ia setelah membaca puisi penyair itu dan
membayangkan semua kalimat dalam bait-bait puisi yang langsung menusuk ke dalam
sanubarinya.
Seketika dia
tertidur pada malam itu, bersama semua koleksi bola miliknya. Berharap semua
yang dikatakan penyair itu akan menjadi kenyataan. Tertidurlah dia dengan
nyenyaknya, tak ada lagi yang harus dipikirkan, yang dia rasa hanyalah wanginya
bunga mimpi di taman Surgawi.
Dongeng ini
belumlah selesai, masih ada kelanjutannya dan banyak lagi kejutan yang akan
diberikan.
”Ayo
teruskan ceritanya” seru pembaca
”Aku ingin
dongeng ini berakhir indah”
*
Ya Tuhanku.
Sesungguhnya selain dirinya, ada banyak sosok yang bisa dijadikan idola, baik
di dunia maupun di akhirat. Dari Sean Garnier, Fagerli bersaudara, hingga
remaja seperti Arie Ardiansyah, semuanya memiliki nama serta personalitasnya
sendiri yang diperhitungkan bangsa dan negara.
Ya Tuhanku.
Maukah menerima kesungguhannya dalam mengejar ambisinya sebagai mahluk
pesepakbola gaya bebas yang keren dan santun demi mengharumkan bangsa dan
negara?
Kisah pun
berlanjut...
*
Di pagi yang
berembun, seorang penyair kebanggaan pulau itu kembali mengirimkan kata
motivasi untuk Fajar:
Sambutlah
hari ini dengan penuh kegembiraan. Buktikan bahwa kamu bisa melakukannya dengan
baik. Jaga sportifitasmu ketika bertanding, jangan pergunakan cara curang dalam
menuruti ambisimu. Semangat! Tidak ada yang mustahil selain kamu mau
merubahnya. Dunia takkan hancur bila kamu menjadi apapun yang membanggakan
bangsa dan negara ini.
Dia pun
segera melangkah, menuju sebuah pertandingan besar di pulau itu. Selamatlah dia
ketika hendak melakukan pertandingan itu dengan baiknya. Jadikanlah dia sebagai
pemain profesional yang nyata, bukanlah ilusi, ataupun khayalan.
*
Pertandingan
itu berjalan lancar, semua peserta tampil dengan apik dan penuh optimisme.
Fajar pun juga begitu, dia terlihat bersemangat dan sesekali keringat keluar
dari keningnya, seperti menandakan hal baik segera menghampiri dirinya.
Dan benar
saja, dia berhasil menjadi juara!
Betapa
senangnya dia ketika mendengar pengumuman ini, seraya berucap, ”Terima kasih,
Tuhan. Kau bagaikan penguasa alam semesta yang begitu memahami kerja kerasku!”
Itulah jihad
sesungguhnya yang dimiliki Fajar. Penyair terkenal itu kembali mengirimnya
sebuah motivasi amat menyentuh hati dan jiwanya:
”Ingatlah,
kemenangan yang kamu dapatkan ini bukanlah apa-apa. Tapi kamu masih memiliki
semangat untuk terus mengajarkan mereka agar bisa sepertimu. Sean Garnier,
Fagerli bersaudara, hingga Arie Ardiansyah kiranya akan bangga padamu. Suatu
saat kelak, bangsa dan negara ini akan selalu memujamu, bersama dengan
masyarakatnya yang luar biasa hebatnya.”
Dan epilog
dari kisah ini: Tanamkan semangat dan optimisme yang tinggi demi meraih ambisi
dan cita-cita yang diinginkan. Janganlah ragu untuk belajar lagi dari nol,
buktikanlah dengan kerja keras dan abaikan semua cemoohan di luar sana. Jadilah
manusia yang tahan banting!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar