Membicarakan bola yang hendak dimainkan.
Bola
bagi kami adalah sebuah sahabat sejati. Menanyakan kondisi tekanan angin dan
fisik dari bola menjadi ungkapan yang digunakan saat yang lain enggan
membicarakannya karena gentar dan malu ketika hendak diajak bermain di lapangan
terbuka.
”Bagaimana
bolamu?”
”Aku
terlihat menarik."
“Aku
bagus dan bisa dimainkan.”
Keangkuhan
itu seolah memenjarakan langkah kami, kendati bola siapa yang bagus, mahal, dan
nyaman dimainkan. Kebisuan mengekang kami dalam permainan yang menduga-duga,
mengetahui siapa yang paling disayang dan dibenci, agar makna itu pun tidak
jadi ambigu kala ingin memainkannya.
”Bagaimana
bolamu?”
”Aku
terlihat bagus ketika ditendang lebih jauh, sama sekali tidak jelek. Kamu?”
”Nyaman
dan efisien. Tak ada kerusakan yang membahayakan.”
Batinku
seketika meringis karena berbohong. Sama sekali tidak bermaksud untuk melukai
perasaannya. Namun, kesatuan diri ini mampu memutuskan demikian: ’Oke.
Ketimbang mempunyai bola yang mahalnya tidak karuan, lebih baik memiliki bola
bagus tapi tidak kemahalan. Agar nantinya jangan jadi pajangan di kamar atau
ruang tamu tok. Itu saja. Cukup.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar