Jumat, 11 Januari 2019

Bola

Membicarakan bola yang hendak dimainkan.

Bola bagi kami adalah sebuah sahabat sejati. Menanyakan kondisi tekanan angin dan fisik dari bola menjadi ungkapan yang digunakan saat yang lain enggan membicarakannya karena gentar dan malu ketika hendak diajak bermain di lapangan terbuka.

”Bagaimana bolamu?”
”Aku terlihat menarik."
“Aku bagus dan bisa dimainkan.”
Keangkuhan itu seolah memenjarakan langkah kami, kendati bola siapa yang bagus, mahal, dan nyaman dimainkan. Kebisuan mengekang kami dalam permainan yang menduga-duga, mengetahui siapa yang paling disayang dan dibenci, agar makna itu pun tidak jadi ambigu kala ingin memainkannya.


”Bagaimana bolamu?”
”Aku terlihat bagus ketika ditendang lebih jauh, sama sekali tidak jelek. Kamu?”
”Nyaman dan efisien. Tak ada kerusakan yang membahayakan.”
Batinku seketika meringis karena berbohong. Sama sekali tidak bermaksud untuk melukai perasaannya. Namun, kesatuan diri ini mampu memutuskan demikian: ’Oke. Ketimbang mempunyai bola yang mahalnya tidak karuan, lebih baik memiliki bola bagus tapi tidak kemahalan. Agar nantinya jangan jadi pajangan di kamar atau ruang tamu tok. Itu saja. Cukup.’

Bola demi bola sudah aku mainkan dan merasakan sentuhannya. Membayangkannya seperti aku memeluk bulan yang bersinar terang di malam hari. Sampai akhirnya nanti, bola itu akan berbalik membenci kita kalau tidak diajak bermain, atau berkompetisi, yang menyisakan kemenangan yang siapa tahu malah membinasakan. Entah terbaik, atau terburuk. Aku tak tahu pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar